Coretan AyahFebruary 9, 2006 11:06 am

Waktu istri hamil, alhamdulillah, saya mencoba sempatkan diri untuk mengantarnya ke dokter di RS Bersalin Siti Aminah di Surabaya. Saya memilih RS ini dari informasi dan pengalaman dari seorang rekan yang selama kehamilan istrinya periksa disitu. Meskipun kadang ceritanya banyak yang bikin ngeri, antrian hingga jam 11 malam baru diperiksa, dokter yang kadang keliatan cuek, tidak beri konsultasi kalau nggak nanya, atau pelayanan yang mungkin tidak ramah. Namun karena dekat dan dulu saya pernah ngunjungi waktu dosen saya melahirkan di RS itu, saya merasa lingkungannya cukup kondusif lah bagi ibu hamil dan melahirkan.

Namun, selama saya mendampingi istri dari minggu-minggu awal kehamilan hingga saat proses kelahiran saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa dengan dokter dan perawat di sana. Keramahan dan kepedulian sangat melekat disana. Dokter Ratna dan Dokter Nanang serta lainnya, sungguh mungkin tak cukup ucapan terima kasih ini sekedar kami bikin coretan disini.

“Dokter Ratna sempat khawatir ketika saat mendekati bulan ke tujuh, gerakan jantung tidak stabil, ia berikan kepada kami untuk rujuk ke RSUD Dr Soetomo, untuk cek gerakan jantung bayi, dan tak lupa ia berikan nomor HPnya untuk janjian di ruangnya. Sungguh ditengah sibuknya beliau, ketika periksa jantung selesai dan saat kami kontak, beliau jawab,”Saya aja yang kesitu, nanti saya tunjukkan tempat saya”. Beliau datang menghampiri kami dan menanti cemas atas hasil ujinya. Kamipun berjalan bersama menuju ruang beliau dan dengan teliti sabar beliau menceritakan bahwa hasilnya bagus, tidak ada kelainan. Tampak bersinar ceria wajah beliau begitupula kami. Saat selesai beliau menjawab salam kami, sambil berjalan keluar, istri saya bilang,”Bukan teman, bukan keluarga kok baik banget ya, dr Ratna ini… :) ”.

Dan, waktu Raka seumur sebulan, istri saya demam tinggi, suhunya mencapai 38.9 derajat, saya tidak berpengalaman soal ini, kami kontak beliau melalui SMS meski tanpa berharap sama sekali, dan ternyata SMS kami dibalas dan kami lega suhunya turun dan Raka tetap mendapatkan ASI eksklusif seperti biasanya.”

Hingga kami berdua berceletuk,”Dokter (dr. Ratna) memang Orang Baik”. Semoga tetap istiqomah, dokter.

Coretan Ayah 8:30 am

Malam itu sungguh saya takjub, haru bercampur ucap “Maha Suci Engkau Ya Alloh” yang telah memperlihatkan pada kami kejadian yang luar biasa. Malam itu adalah malam rasa syukur kami pada-Mu, di mana kami mengadakan walimatul aqiqah dan walimatul tasmiyah. Dalam acara itu kami berdiri dengan bersholawat pada Rasul dengan penuh kesyahduan dan kerinduan pada Rasul. Bersamaan dengan pembacaan sholawat itu, saya diminta untuk menggendong putra pertama dan berkeliling ke semua yang hadir agar semuanya ikut mendoakan sambil mengusap kepala putra saya. Saya memohon kepada Allah SWT, agar Raka tidak menangis, karena ia biasanya tidak bisa mendengar suara keras, kemresek, karena pasti lantunan sholawat itu keras apalagi ditambah dengan pengeras suara yang kami pasang.

Namun, sungguh tak terasa, terus saya menahan air mata agar tidak jatuh, Raka tidak menangis, wajahnya terlihat menikmati hingga usapan terakhir dari yang hadir. Dan sungguh ini mengingatkan kami semua bahwa tiada lantunan nada yang paling indah, tiada lantunan klasik yang lebih klasik selain lantunan pujian pada Allah dan Rasul-Nya.

Catatan pada acara walimatul aqiqah : 7 Pebruari 2006